whatsapp image 2026 08 27 at 12.07.43

Noken dan Ancaman Hilangnya Bahan Baku: Akankah Warisan Papua Ini Punah?

PAPUA BARAT DAYA — Bagi masyarakat Papua, noken bukan sekadar tas. Ia merupakan warisan pengetahuan, simbol kehidupan sosial, bagian dari identitas budaya, sekaligus bukti hubungan erat manusia dengan alam.

Noken digunakan untuk membawa hasil kebun, hasil tangkapan, kayu bakar, bayi, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. Di sejumlah komunitas, proses pembuatannya juga menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, warisan tersebut menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Bahan baku tradisional noken berasal dari tumbuhan yang tumbuh di lingkungan alami Papua. Ketika akses terhadap hutan semakin sulit atau bentang alam berubah akibat berbagai aktivitas pemanfaatan lahan, keberlangsungan bahan baku noken ikut dipertaruhkan.

Pertanyaannya bukan sekadar apakah masyarakat Papua masih menggunakan noken.

Pertanyaannya adalah: apakah bahan baku dan pengetahuan yang membuat noken tetap hidup masih tersedia untuk generasi berikutnya?

UNESCO Sudah Mengingatkan Sejak 2012

Ancaman terhadap noken bukan isu baru.

Pada 2012, UNESCO memasukkan noken ke dalam List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding atau Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak.

UNESCO mencatat bahwa jumlah orang yang membuat dan menggunakan noken mengalami penurunan. Sejumlah faktor mengancam keberlangsungannya, antara lain melemahnya pewarisan tradisi, berkurangnya jumlah pengrajin, persaingan dengan tas produksi pabrik, perubahan nilai budaya, serta kesulitan memperoleh bahan baku tradisional.

Status tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa pelestarian noken tidak cukup dilakukan dengan mempromosikan produknya. Yang harus dijaga adalah seluruh ekosistem budaya yang membuat noken tetap hidup.

Noken Lahir dari Alam Papua

Noken memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam.

Menurut UNESCO, noken secara tradisional dibuat menggunakan serat kayu atau daun. Dalam proses pembuatannya, cabang, batang atau kulit tumbuhan tertentu diproses melalui berbagai tahapan sebelum serat tersebut dipintal menjadi benang atau tali dan dirajut secara manual menjadi noken.

Proses tersebut membutuhkan keterampilan tangan dan ketelitian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Penelitian di Kampung Esyo, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, menemukan bahwa masyarakat memanfaatkan serat kulit pohon melinjo sebagai salah satu bahan baku pembuatan noken.

Penelitian tersebut juga mendokumentasikan pengetahuan lokal masyarakat mengenai pemilihan bahan, pengambilan kulit, perendaman, penjemuran, penghalusan hingga proses pembuatan noken.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa noken bukan produk yang berdiri sendiri.

Di balik sebuah noken terdapat pengetahuan mengenai tumbuhan, lingkungan, teknik pengolahan dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketika Bahan Baku Semakin Sulit Diperoleh

Persoalan muncul ketika tumbuhan bahan baku semakin sulit ditemukan atau masyarakat semakin sulit mengakses kawasan tempat tumbuhan tersebut tumbuh.

Penelitian mengenai masyarakat Suku Miyah di Kabupaten Tambrauw mencatat penggunaan serat kulit pohon ganemon sebagai bahan baku noken. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa ketersediaan bahan baku yang masih sulit menjadi salah satu hambatan dalam proses pembuatan noken.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap noken tidak harus selalu berupa hilangnya seluruh kawasan hutan.

Ketika bahan baku semakin jauh dari permukiman, ketika akses terhadap kawasan sumber bahan semakin terbatas, atau ketika tumbuhan yang biasa digunakan semakin sulit ditemukan, pengrajin juga menghadapi persoalan.

Membuat noken menjadi lebih sulit, membutuhkan waktu lebih lama dan berpotensi meningkatkan biaya produksi.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, regenerasi pengrajin juga dapat semakin berat.

Perubahan Lahan dan Ancaman terhadap Budaya

Di Papua, perubahan penggunaan lahan menjadi persoalan yang perlu diperhatikan secara serius.

Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu bentuk pemanfaatan lahan yang berkembang di sejumlah wilayah Papua. Data statistik perkebunan menunjukkan keberadaan areal kelapa sawit di Papua Barat Daya.

Namun, persoalan tersebut perlu dilihat secara hati-hati.

Belum tersedia data nasional yang secara spesifik menghitung berapa luas habitat tumbuhan bahan baku noken yang hilang akibat perkebunan kelapa sawit.

Karena itu, tidak tepat jika setiap berkurangnya bahan baku noken secara langsung disimpulkan semata-mata akibat sawit.

Yang perlu menjadi perhatian adalah perubahan bentang alam secara keseluruhan dan dampaknya terhadap akses masyarakat terhadap sumber daya alam.

Satu kawasan hutan mungkin terlihat sebagai angka dalam peta.

Namun bagi masyarakat adat, kawasan tersebut dapat menjadi tempat mencari pangan, obat-obatan, bahan bangunan, bahan kerajinan dan bahan baku noken.

Ketika fungsi ruang berubah, yang berubah bukan hanya bentang alam.

Rantai kehidupan budaya masyarakat juga dapat ikut terdampak.

Noken Tidak Boleh Kalah oleh Pembangunan

Pembangunan ekonomi memang penting.

Investasi, perkebunan dan aktivitas ekonomi dapat menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Namun, pembangunan tidak seharusnya membuat masyarakat Papua harus memilih antara kesejahteraan ekonomi dan mempertahankan identitas budayanya.

Noken tidak boleh ditempatkan sebagai korban dari pembangunan.

Pembangunan seharusnya mampu memberikan ruang bagi kebudayaan untuk tetap hidup.

Ketika suatu wilayah hendak dikembangkan, pemerintah perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar nilai ekonominya.

Apakah terdapat masyarakat adat?

Apakah terdapat kawasan yang memiliki nilai budaya?

Apakah terdapat tumbuhan yang menjadi bahan baku kerajinan tradisional?

Apakah akses masyarakat terhadap sumber daya tersebut akan berubah?

Dan apakah tersedia langkah untuk memastikan bahan baku tetap dapat diperoleh?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar pembangunan tidak menghasilkan keuntungan ekonomi jangka pendek dengan mengorbankan warisan budaya yang membutuhkan waktu panjang untuk terbentuk.

Negara Memiliki Dasar Hukum untuk Melindungi Noken

Perlindungan noken bukan hanya persoalan moral dan budaya. Indonesia memiliki sejumlah dasar hukum yang dapat digunakan untuk memperkuat perlindungannya.

Pertama, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Undang-undang ini memberikan landasan bagi upaya pemajuan kebudayaan melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan.

Dalam konteks noken, yang perlu dilindungi bukan hanya produk akhirnya, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, praktik dan proses pewarisannya.

Kedua, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Pasal 67 mengatur hak masyarakat hukum adat yang keberadaannya masih ada dan diakui, termasuk hak memungut hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta melakukan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan ini relevan karena bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar kawasan yang memiliki nilai ekonomi.

Hutan merupakan ruang kehidupan yang menyediakan pangan, obat-obatan, bahan kerajinan dan berbagai kebutuhan masyarakat.

Ketiga, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Undang-undang tersebut menegaskan pentingnya pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pemanfaatan sumber daya alam harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Keempat, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.

Kerangka Otonomi Khusus memberikan landasan khusus dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Papua, termasuk afirmasi terhadap Orang Asli Papua serta pengakuan terhadap karakteristik sosial dan budaya Papua.

Keempat kerangka hukum tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan, lingkungan dan masyarakat adat tidak dapat dipisahkan ketika membicarakan masa depan Papua.

Yang Harus Diselamatkan Bukan Hanya Noken

Jika ingin menyelamatkan noken, pendekatannya tidak boleh berhenti pada kegiatan pameran atau promosi produk ekonomi kreatif.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, memetakan bahan baku noken.

Pemerintah bersama masyarakat adat, pengrajin dan akademisi perlu mendata jenis tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku noken di setiap wilayah.

Kedua, membudidayakan tanaman bahan baku.

Tumbuhan yang selama ini diperoleh dari alam perlu dikembangkan melalui pembibitan dan penanaman kembali agar kebutuhan pengrajin tidak sepenuhnya bergantung pada tumbuhan liar.

Ketiga, melindungi kawasan sumber bahan baku.

Kawasan yang memiliki nilai penting bagi keberlangsungan budaya masyarakat perlu diperhatikan dalam perencanaan pembangunan dan tata ruang.

Keempat, memperkuat regenerasi pengrajin.

Generasi muda Papua harus diberikan ruang untuk mempelajari pembuatan noken. Pelestarian tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan pengrajin yang sudah ada.

Kelima, meningkatkan nilai ekonomi noken.

Pengrajin harus memperoleh nilai ekonomi yang layak. Dengan demikian, membuat noken dapat menjadi kegiatan budaya sekaligus sumber penghasilan yang menarik bagi generasi muda.

Keenam, memastikan pembangunan menghormati budaya.

Pemanfaatan lahan dan investasi di Papua perlu memperhatikan kondisi lingkungan, hak masyarakat adat serta keberadaan kebudayaan lokal.

Jangan Sampai Noken Hanya Menjadi Pajangan

Ada bahaya yang sering tidak terlihat.

Suatu hari nanti noken mungkin masih dijual di pusat oleh-oleh, dipamerkan dalam acara kebudayaan dan digunakan dalam berbagai kegiatan resmi.

Tetapi siapa yang membuatnya?

Dari mana bahan bakunya?

Siapa yang mengetahui cara mengolah seratnya?

Apakah generasi muda masih mengetahui tumbuhan yang digunakan?

Dan apakah masyarakat masih dapat mengakses kawasan tempat bahan tersebut tumbuh?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban, kita berisiko menyelamatkan bentuk noken, tetapi kehilangan jiwa kebudayaannya.

Noken tidak boleh berakhir sebagai sekadar simbol yang dipajang, sementara pengetahuan dan lingkungan yang menopangnya perlahan menghilang.

Akankah Noken Punah?

Belum terlambat untuk mencegahnya.

Noken masih dibuat. Pengrajinnya masih ada. Pengetahuan tradisionalnya masih hidup di berbagai komunitas Papua.

Namun, keberadaan tersebut tidak boleh dianggap sebagai jaminan bahwa noken akan selamanya bertahan.

Noken membutuhkan bahan baku.

Noken membutuhkan pengrajin.

Noken membutuhkan generasi penerus.

Dan noken membutuhkan ruang hidup bagi kebudayaan Papua untuk terus berkembang.

Karena itu, pembangunan Papua harus bergerak dengan prinsip sederhana:

Kemajuan ekonomi tidak boleh menghapus identitas budaya.

Hutan tidak boleh hanya dilihat sebagai lahan.

Bahan baku tidak boleh hanya dilihat sebagai tumbuhan.

Dan noken tidak boleh hanya dilihat sebagai tas.

Di dalam sebuah noken terdapat pengetahuan, keterampilan, sejarah dan identitas masyarakat Papua.

Maka ketika bahan bakunya mulai sulit diperoleh, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan bukan sekadar keberadaan sebuah kerajinan.

Yang sedang kita pertaruhkan adalah apakah generasi Papua di masa depan masih dapat membuat, menggunakan dan memahami warisan budaya yang ditinggalkan oleh leluhur mereka.

Jika jawabannya ingin tetap “ya”, maka menyelamatkan noken harus dimulai dari sekarang.

Selamatkan noken. Jaga bahan bakunya. Lindungi alamnya. Hormati masyarakat adatnya.

Karena menjaga noken berarti menjaga salah satu identitas Papua agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *