PAPUA BARAT DAYA — Papua Barat Daya tidak hanya dikenal karena bentang alamnya yang indah. Hutan, laut, pulau-pulau, pegunungan, sungai, dan pesisir di wilayah ini juga menjadi ruang hidup yang membentuk berbagai tradisi dan ekspresi seni masyarakatnya.
Di balik sebuah tarian, ukiran, anyaman, musik tradisional, ritual adat, hingga kerajinan yang dibuat dari bahan alam, terdapat cerita tentang hubungan manusia dengan lingkungan.
Bagi masyarakat adat di Papua Barat Daya, alam bukan sekadar tempat untuk mengambil sumber daya. Alam menjadi bagian dari kehidupan, identitas, pengetahuan, dan kebudayaan yang diwariskan antargenerasi.
Hubungan tersebut terlihat jelas dalam kehidupan masyarakat Suku Moi di Kabupaten Sorong, masyarakat Maybrat, masyarakat adat di Sorong Selatan, hingga berbagai komunitas adat di Raja Ampat.
Karena itu, membicarakan seni Papua Barat Daya pada dasarnya juga berarti membicarakan alam yang menjadi sumber inspirasi dan ruang hidup bagi kebudayaan tersebut.
Alam Bukan Sekadar Latar Belakang Seni
Sebuah karya seni biasanya lahir dari lingkungan tempat masyarakat hidup.
Bahan yang digunakan, bentuk yang dibuat, simbol yang ditampilkan, hingga cerita yang disampaikan dapat memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitarnya.
Di Papua Barat Daya, hubungan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai bentuk.
Serat tumbuhan dapat diolah menjadi noken dan anyaman.
Kayu dapat menjadi bahan ukiran.
Bambu dapat menjadi alat musik.
Bahan-bahan dari alam dapat digunakan dalam berbagai perlengkapan adat dan kerajinan.
Sementara laut, hutan, gunung, hewan, tumbuhan dan kehidupan masyarakat menjadi sumber inspirasi dalam berbagai ekspresi budaya.
Dengan demikian, alam memiliki dua fungsi sekaligus.
Alam menyediakan bahan untuk berkarya dan memberikan cerita yang kemudian diterjemahkan menjadi seni.
Suku Moi dan Hubungan Seni dengan Alam
Salah satu contoh kuat dapat ditemukan pada masyarakat adat Suku Moi di wilayah Sorong.
Masyarakat Moi memiliki berbagai tradisi yang menunjukkan hubungan erat antara kebudayaan dan lingkungan.
Salah satunya adalah Egek, sebuah praktik adat dalam pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan melalui pembatasan pemanfaatan sumber daya dalam periode tertentu.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menyebut Egek sebagai bentuk konservasi tradisional masyarakat Moi dalam mengelola sumber daya alam, baik di laut maupun hutan. Dalam praktiknya, Egek juga berkaitan dengan berbagai kegiatan seni dan budaya masyarakat. (papuabaratdayaprov.go.id)
Festival Egek di Malaumkarta, misalnya, tidak hanya menampilkan tradisi konservasi.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan tarian adat, nyanyian adat, cerita dalam bahasa Moi, permainan tradisional, kuliner dan kerajinan adat. (kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Hal tersebut menunjukkan bahwa lingkungan dan seni tidak berdiri sendiri.
Ketika masyarakat menjaga laut dan hutan, mereka pada saat yang sama menjaga ruang hidup bagi kebudayaan.
Egek Menunjukkan bahwa Alam dan Budaya Saling Terhubung
Egek memberikan gambaran menarik mengenai hubungan tersebut.
Masyarakat tidak hanya membuat aturan untuk mengambil hasil alam, tetapi juga memiliki ritual dan ekspresi budaya yang menyertai pelaksanaannya.
Dalam pembukaan Egek terdapat Upacara Fie, yaitu ritual masyarakat Moi yang dipimpin tetua adat sebagai bagian dari proses membuka kawasan Egek. Prosesi tersebut memperlihatkan bagaimana aturan pemanfaatan alam terhubung dengan kepercayaan, adat, seni dan kehidupan sosial masyarakat. (kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Artinya, konservasi bagi masyarakat adat tidak selalu berbentuk aturan tertulis.
Ia dapat hadir melalui ritual.
Melalui cerita.
Melalui musik.
Melalui tarian.
Dan melalui norma yang diwariskan.
Inilah salah satu kekayaan kebudayaan Papua Barat Daya yang tidak dapat diukur hanya dari nilai ekonominya.
Maybrat dan Upaya Menjaga Tradisi
Hubungan antara seni, adat dan identitas juga terlihat di Kabupaten Maybrat.
Pada 2026, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maybrat mendorong sejumlah tradisi lokal untuk diusulkan sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan, termasuk Niriton, Pref, dan Mumut Awyat. Pemerintah daerah menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya melindungi keaslian budaya khas Maybrat serta menjaga identitas dan hak kepemilikan adat. (rri.co.id)
Di Maybrat juga terdapat sanggar-sanggar seni yang berperan dalam mengajarkan proses adat kepada generasi muda.
Hal ini penting karena sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena dicatat dalam dokumen.
Tradisi membutuhkan orang yang memahami dan menjalankannya.
Sanggar, komunitas budaya, keluarga dan para tetua adat menjadi ruang tempat pengetahuan tersebut diwariskan.
Seni Pertunjukan Menjadi Identitas Masyarakat
Papua Barat Daya memiliki kekayaan seni pertunjukan yang berasal dari berbagai komunitas.
Salah satu contoh adalah Tari Yembo dari masyarakat Inanwatan, Metemani dan Kokoda di Kabupaten Sorong Selatan.
Tari tersebut telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025 bersama sejumlah karya budaya lainnya dari Papua Barat Daya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Barat Daya menjelaskan bahwa Tari Yembo berkembang dari tradisi tari perang menjadi ekspresi kegembiraan kolektif masyarakat. (disdikbud.papuabaratdayaprov.go.id)
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa seni tradisional tidak harus selalu berada dalam bentuk yang sama.
Sebuah tradisi dapat berkembang mengikuti zaman tanpa harus kehilangan identitasnya.
Yang penting adalah masyarakat tetap memahami sejarah, nilai dan makna yang berada di baliknya.
Ritual Juga Merupakan Bentuk Seni
Kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk panggung pertunjukan.
Ritual adat juga dapat mengandung berbagai unsur seni.
Ada gerakan.
Ada musik.
Ada bahasa.
Ada simbol.
Ada pakaian.
Ada benda-benda budaya.
Dan ada cerita yang diwariskan.
Di Papua Barat Daya, Ritual Ben Fie masyarakat Moi juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025. Ritual tersebut memiliki kaitan dengan spiritualitas, solidaritas masyarakat Moi dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. (disdikbud.papuabaratdayaprov.go.id)
Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Papua Barat Daya tidak hanya berada pada benda yang dapat disentuh.
Sebagian besar justru berada pada pengetahuan dan praktik yang hidup di tengah masyarakat.
Raja Ampat: Alam yang Menjadi Bagian dari Identitas
Raja Ampat merupakan contoh lain bagaimana alam dan budaya memiliki hubungan yang kuat.
Wilayah ini dikenal luas karena kekayaan laut dan bentang alamnya.
Namun, bagi masyarakat yang hidup di dalamnya, laut bukan sekadar objek wisata.
Laut merupakan bagian dari kehidupan.
Karena itu, pembicaraan mengenai pengelolaan sumber daya alam di Raja Ampat juga berkaitan dengan masyarakat adat dan kebudayaan.
Pada 2025, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya memfasilitasi Dialog Kebudayaan dan Penguatan Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam di Raja Ampat. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, akademisi dan dewan adat untuk membahas pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan serta memperkuat posisi masyarakat adat. (papuabaratdayaprov.go.id)
Ini menjadi penting karena pelestarian alam dan pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan.
Ketika masyarakat adat memiliki ruang untuk mempertahankan hubungan mereka dengan lingkungan, kebudayaan juga memiliki ruang untuk berkembang.
Seni Tradisional Menggunakan Pengetahuan Alam
Seni dan kerajinan tradisional juga memperlihatkan bagaimana masyarakat memahami lingkungan.
Untuk membuat sebuah karya dari bahan alam, seseorang harus mengetahui bahan yang tepat.
Tidak semua tumbuhan dapat digunakan.
Tidak semua kayu memiliki karakter yang sama.
Tidak semua serat dapat diolah dengan cara yang sama.
Pengetahuan tersebut diperoleh melalui pengalaman dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, ketika kita melihat sebuah kerajinan tangan, sebenarnya ada pengetahuan lingkungan yang berada di belakangnya.
Seni adalah hasil kreativitas, tetapi kreativitas tersebut tumbuh dari pengetahuan mengenai lingkungan.
Noken sebagai Salah Satu Contohnya
Noken menjadi salah satu contoh paling mudah untuk melihat hubungan antara alam dan seni.
Noken tradisional menggunakan bahan yang berasal dari tumbuhan dan dibuat melalui keterampilan manual yang diwariskan.
Bagi masyarakat Papua, noken memiliki fungsi sosial, ekonomi dan budaya yang luas, bukan sekadar sebagai tas. (patrawidya.kemenbud.go.id)
Karena itu, keberadaan noken juga berkaitan dengan keberadaan pengetahuan mengenai bahan baku dan keterampilan pembuatannya.
Ketika bahan alam sulit diperoleh atau jumlah pengrajin berkurang, keberlanjutan tradisi ikut menghadapi tantangan.
Inilah alasan mengapa pelestarian budaya perlu berjalan bersama dengan pelestarian lingkungan.
Ketika Alam Rusak, Seni Bisa Kehilangan Sumbernya
Hubungan antara alam dan seni juga membawa sebuah konsekuensi.
Jika lingkungan mengalami kerusakan, seni yang bergantung pada bahan dan pengetahuan alam dapat terkena dampaknya.
Ketika tumbuhan tertentu semakin sulit ditemukan, pengrajin harus mencari bahan alternatif.
Ketika kawasan hutan semakin jauh dari permukiman, proses mendapatkan bahan menjadi lebih sulit.
Jika generasi muda tidak lagi mempelajari keterampilan tradisional, pengetahuan mengenai bahan dan teknik dapat perlahan hilang.
Karena itu, pelestarian seni tidak cukup hanya dengan menjaga hasil karya.
Yang harus dijaga adalah sumber bahan, lingkungan, pengrajin dan pengetahuan yang membuat karya tersebut dapat lahir.
Modernisasi Tidak Harus Menghapus Tradisi
Perubahan zaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Papua Barat Daya juga terus berkembang.
Kota tumbuh.
Teknologi berkembang.
Pola konsumsi berubah.
Generasi muda semakin dekat dengan dunia digital.
Namun, perubahan tersebut tidak harus membuat seni tradisional hilang.
Justru teknologi dapat menjadi sarana baru untuk memperkenalkan kebudayaan.
Pengrajin dapat memasarkan produk melalui internet.
Seniman dapat mendokumentasikan karya mereka.
Generasi muda dapat membuat video mengenai proses pembuatan kerajinan.
Sanggar dapat menggunakan media sosial untuk memperkenalkan tarian dan musik tradisional.
Dengan demikian, teknologi dapat menjadi jembatan antara generasi lama dan generasi baru.
Budaya Harus Hidup, Bukan Hanya Dipamerkan
Salah satu tantangan pelestarian budaya adalah ketika budaya hanya muncul dalam acara seremonial.
Budaya dipertunjukkan di panggung.
Difoto.
Direkam.
Kemudian selesai.
Padahal, budaya akan lebih kuat apabila tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, kegiatan budaya perlu terhubung dengan pendidikan, ekonomi kreatif, pariwisata, komunitas dan kehidupan sehari-hari.
Penetapan empat karya budaya Papua Barat Daya sebagai WBTb Indonesia 2025 menjadi salah satu langkah penting. Namun, pemerintah daerah sendiri menekankan bahwa pengakuan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk melakukan dokumentasi, inventarisasi dan perlindungan agar pengetahuan budaya tidak hilang.
Pengakuan adalah awal, bukan akhir dari pelestarian.
Perlindungan Hukum untuk Kebudayaan
Pelestarian seni dan budaya Papua Barat Daya juga memiliki landasan hukum.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memberikan kerangka melalui empat langkah utama: pelindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan.
Kerangka tersebut relevan dengan kondisi Papua Barat Daya.
Budaya perlu dilindungi melalui dokumentasi dan pengakuan.
Budaya dapat dikembangkan melalui kreativitas generasi muda.
Budaya dapat dimanfaatkan untuk memberikan manfaat sosial dan ekonomi.
Dan pelaku budaya perlu mendapatkan pembinaan agar keterampilan dapat diwariskan.
Dengan pendekatan tersebut, pelestarian budaya tidak berarti membuat seni berhenti berkembang.
Sebaliknya, budaya dapat terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar identitasnya.
Masyarakat Adat Harus Menjadi Subjek
Salah satu prinsip terpenting dalam pemajuan kebudayaan adalah masyarakat yang memiliki budaya harus ditempatkan sebagai bagian utama.
Masyarakat adat bukan sekadar objek yang budayanya ditampilkan.
Mereka adalah pemilik pengetahuan dan pelaku kebudayaan.
Hal tersebut juga menjadi perhatian di Papua Barat Daya. Majelis Rakyat Papua Papua Barat Daya pada 2025 menyatakan bahwa aspirasi masyarakat adat Suku Moi mencakup antara lain hak ulayat dan tanah adat, pelestarian adat dan budaya, serta pemberdayaan masyarakat adat. (mrp.papuabaratdayaprov.go.id)
Karena itu, pengembangan seni dan budaya seharusnya dilakukan dengan melibatkan masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan tradisi tersebut.
Mereka harus didengar, dilibatkan dan mendapatkan manfaat.
Generasi Muda adalah Kunci
Pada akhirnya, masa depan seni Papua Barat Daya berada di tangan generasi berikutnya.
Jika anak muda mau belajar tari, musik, ukiran, noken, bahasa dan ritual adat, maka kebudayaan akan memiliki masa depan.
Jika mereka mampu membawa tradisi ke ruang digital, budaya dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Jika mereka mengembangkan produk budaya menjadi usaha kreatif, seni dapat memberikan manfaat ekonomi.
Dan jika mereka memahami hubungan antara budaya dan alam, mereka juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan.
Karena itu, pendidikan budaya menjadi penting.
Sanggar seni, sekolah, komunitas dan keluarga memiliki peran yang sama-sama penting dalam proses tersebut.
Alam dan Seni Tidak Bisa Dipisahkan
Papua Barat Daya memiliki kekayaan alam yang luar biasa.
Namun, kekayaan tersebut tidak berdiri sendiri.
Di sekitarnya terdapat masyarakat yang memiliki sejarah, pengetahuan dan kebudayaan.
Hutan menyediakan bahan.
Laut menyediakan kehidupan.
Gunung dan sungai menjadi bagian dari ruang hidup.
Tumbuhan menjadi bahan kerajinan.
Lingkungan menjadi sumber inspirasi.
Kemudian manusia mengolahnya menjadi karya seni dan tradisi.
Dari proses tersebut lahirlah identitas.
Alam memberikan ruang. Manusia memberikan makna. Seni menyimpan cerita. Budaya kemudian mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Itulah hubungan yang perlu dijaga di Papua Barat Daya.
Jangan Biarkan Budaya Kehilangan Rumahnya
Seni tidak lahir dari ruang kosong.
Ia lahir dari kehidupan masyarakat.
Dan kehidupan masyarakat memiliki hubungan dengan lingkungan.
Karena itu, ketika kita menjaga hutan, laut dan lingkungan Papua Barat Daya, kita sebenarnya juga menjaga ruang bagi kebudayaan untuk terus berkembang.
Ketika kita menjaga pengrajin, kita menjaga pengetahuan.
Ketika kita mendukung sanggar, kita menjaga regenerasi.
Ketika kita menghargai masyarakat adat, kita menghargai pemilik pengetahuan.
Dan ketika kita membeli produk budaya secara bertanggung jawab, kita ikut memberikan nilai ekonomi kepada orang-orang yang menjaga tradisi.
Pelestarian tidak harus berarti menolak perubahan.
Yang harus ditolak adalah hilangnya identitas karena perubahan yang tidak menghargai akar budaya.
Papua Barat Daya: Alam yang Menghidupkan Seni
Papua Barat Daya bukan hanya wilayah dengan pemandangan alam yang indah.
Ia adalah ruang tempat alam dan kebudayaan berkembang bersama.
Dari Egek Suku Moi di Malaumkarta, tradisi Maybrat, seni pertunjukan masyarakat Sorong Selatan, hingga kekayaan budaya masyarakat Raja Ampat, semuanya menunjukkan bahwa identitas Papua Barat Daya dibangun dari hubungan panjang antara manusia dan lingkungannya. (kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Karena itu, menjaga seni berarti menjaga manusia yang menciptakannya.
Menjaga budaya berarti menjaga pengetahuan yang diwariskan.
Dan menjaga alam berarti menjaga ruang tempat semua itu dapat terus hidup.
Papua Barat Daya boleh terus berkembang. Seni boleh berinovasi. Teknologi boleh semakin maju. Tetapi akar budaya harus tetap dijaga.
Sebab selama alam masih hidup, masyarakat masih berkarya, dan generasi muda masih mau belajar, seni Papua Barat Daya akan selalu memiliki cerita untuk diwariskan.

